JAKARTA, cakrawalapublik.com – Masalah sampah di Jakarta emang nggak ada habisnya. Bukannya makin beres, isu pengelolaan sampah malah terkesan cuma jadi ajang “gimmick” lewat kampanye pilah sampah tanpa aksi nyata di lapangan.
Melihat fenomena ini, Ketua Poros Rawamangun, Rudy Darmawanto, akhirnya buka suara. Ia meminta Pemprov DKI dan DPRD Jakarta buat berhenti sekadar bikin imbauan, dan mulai sat-set nyiapin infrastruktur yang beneran bisa dipakai warga.
”Jangan Cuma Kasih Imbauan, Kasih Fasilitas!”
Rudy ngerasa kalau kebijakan pilah sampah yang digaungkan pemerintah daerah selama ini kurang work di level warga. Masalah utamanya simpel: infrastruktur di tingkat RT/RW masih minim banget.
“Pemda dan DPRD jangan cuma jago bikin slogan buat masyarakat pilah sampah. Kalau sarana di lingkungannya aja nggak ada, gimana mau jalan? Kebijakan itu harus realistis dan punya impact nyata,” tegas Rudy, Minggu (19/7/2026).
Local Pride: Berdayakan RT/RW buat Kelola Sampah Mandiri
Daripada cuma branding di sosmed, Rudy ngusulin pemerintah buat lebih fokus ke pemberdayaan berbasis komunitas. Menurutnya, konsep Waste Management di tingkat lokal itu kunci.
Rudy mengusulkan beberapa langkah konkret, diantaranya:
- Pendampingan Serius: Pemprov harus turun tangan bantu RT/RW bangun sistem mandiri, kayak Bank Sampah atau rumah kompos.
- Sentuhan Teknologi: Sediain teknologi pengolahan sampah yang eco-friendly sesuai kebutuhan tiap wilayah.
- Kasih Apresiasi: Biar warga makin semangat, buat program reward tahunan buat RT/RW yang paling inovatif dalam mengelola sampah. Kalau ada apresiasi, partisipasi warga pasti naik!
Warning buat Pansus Sampah: Jangan Gegabah!
Menyoroti kinerja Pansus Sampah DPRD DKI, Rudy berharap evaluasi yang dilakukan harus komprehensif, bukan cuma formalitas. Rudy ngasih warning keras soal rencana penghentian pengiriman sampah ke TPST Bantargebang.
Menurutnya, kebijakan itu “bom waktu” kalau infrastruktur pengelolaan sampah di dalam kota sendiri belum matang.
“Volume sampah harian Jakarta itu bisa dihitung secara matematis. Jangan asal stop kirim ke Bantargebang kalau sistem pengolahan alternatif di Jakarta belum siap. Jangan sampai nanti malah jadi krisis sampah di tengah kota,” pungkasnya.
Rudy berharap ke depannya, Pemprov dan DPRD bisa lebih all-out benerin sistem dari hulu ke hilir. Karena buat anak muda Jakarta, kota yang bersih bukan cuma mimpi, tapi kebutuhan buat masa depan yang lebih sehat. (Jm).

